BOGOR, 04 Maret 2026 – Pagi di Sukasari, Kota Bogor, selalu datang bersama udara yang lembab beraroma tanah basah. Diantara riuh kendaraan dan langkah kaki pemburu kuliner, ada satu wangi yang tak pernah absen yaitu campuran cuka, cabai, dan gula yang menguar dari dapur kecil Asinan Gedong Dalam. Di sanalah segarnya sejarah diracik, bukan hanya dalam mangkuk, tetapi juga dalam ingatan. Asinan ini bukan sekedar potongan bengkuang, mangga, kedondong, pepaya muda, atau sawi asin bersama campuran parutan wortel dan kubis yang disiram kuah merah menyala. Asinan Bogor adalah cerita panjang tentang ketekunan keluarga yang merawat resep sejak puluhan tahun silam. Merangkak dari pikulan sederhana hingga etalase yang kini tak pernah sepi.
Konon, usaha Asinan Gedong Dalam, Sukasari telah dirintis sejak era 1970-an, ketika sang kakek memulai menjajakan buah segar tertatih berjalan hingga ke sudut-sudut kota. Dari buah yang dipikul itulah kemudian lahir gagasan meracik asinan dengan kuah cuka khas, pedas yang menggigit, namun menyisakan manis yang lembut di ujung lidah. Resep itu kemudian diwariskan turun-temurun, dijaga layaknya pusaka. Kini, generasi ketiga berdiri di belakang meja kayu yang sama, menampung sejumlah guci berisi ramuan kuah asam semerbak cuka manis yang meneruskan denyut rasa yang tak boleh berubah. “Resepnya tidak pernah kami ubah,” tutur Sherren Santoso, cucu pendiri yang kini mengelola usaha keluarga ini. “Dari dulu sampai sekarang, bumbunya diracik setiap pagi. Sayur dan buah harus segar. Kakek selalu bilang, rasa itu soal kejujuran.” Ungkapnya, ketika ditemui sedang menjaga tokonya di jalan Siliwangi, No.27-C, Sukasari, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor.
Kejujuran itu terasa saat sendok pertama menyentuh kuah. Ada letupan asam yang membangunkan selera, pedas yang berlari cepat di lidah, berakhir manis yang menenangkan. Tekstur buah dan sayur yang renyah seolah menjadi penyeimbang, seperti harmoni dalam orkestra kecil bernama Asinan Bogor Gedong Dalam. Bagi warga Bogor, Asinan Gedong adalah nostalgia yang bisa disantap, bukan hanya rasa tapi juga nilai sejarah yang kembali menyeruak. Salah satu pengunjung, Intan, seorang dosen dari Batam yang berusia 53 tahun, mengaku sudah puluhan kali kembali ke tempat ini. “Setiap berkunjung ke Bogor, saya selalu mampir. Rasanya tidak pernah berubah. Itu yang bikin saya kangen,” katanya sambil tersenyum dan menambahkan kerupuk kuning ke dalam mangkuknya. Intan menyatakan Asinan Bogor adalah kuliner favoritnya semasa remaja kala bersekolah di kota hujan tersebut. Disebut Gedung Dalam melengkapi nama asinan, karena letak toko yang menyempil diantara ruko sepanjang jalan Siliwangi, Sukasari.
Ache, generasi Z dari Jakarta, juga punya kesan lain. “Awalnya cuma ikut teman. Tapi setelah coba, saya paham kenapa ini legendaris. Kuahnya segar sekali, tidak terlalu manis, tidak terlalu pedas. Pas cita rasanya, beda dengan asinan di tempat lain.” katanya sambil memborong sejumlah bungkus Asinan. Di akhir pekan, antrean kerap mengular hingga di ujung jalan raya. Anak muda datang dengan ponsel di tangan, sementara orang tua datang dengan cerita masa lalu. Sebagian memotret, sebagian lagi langsung menyantap tanpa banyak bicara, karena rasa dan kunyahan, sering kali lebih fasih daripada kata-kata.
Meski zaman telah berubah dan aplikasi pengantaran makanan menjadi bagian dari keseharian, dapur kecil itu tetap setia pada cara lama. Cuka tetap diracik sendiri. Bumbu tetap ditumbuk, bukan hanya sekedar dicampur. “Kami boleh mengikuti perkembangan teknologi, terutama untuk marketingnya tapi rasa harus tetap sama, itu yang utama,” ujar Sherren kembali menjelaskan.
Bogor yang dikenal sebagai Kota Hujan menjadikan asinan bukan sekedar kuliner biasa, tapi menjadi penanda pulang. Asinan Bogor mengikat kenangan masa kecil, pertemuan keluarga, juga persinggahan singkat para pelancong yang bersantai, setelah menjelajahi wilayah dingin ini. Dalam semangkuk Asinan Gedong Dalam, ada sejarah yang tak ditulis di buku, tetapi hidup dalam percakapan dan selera. Seperti hujan yang selalu menemukan jalannya kembali ke tanah, orang-orang pun selalu menemukan jalan untuk kembali ke Sukasari, ke warung kecil yang menyajikan kesegaran, sekaligus keteguhan dalam menjaga warisan rasa. (DEWI SUSPA)