TEHERAN, 11 Maret 2026 — Keputusan mengejutkan datang dari Iran. Pemerintah Iran menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam ajang FIFA World Cup 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Olahraga Iran Ahmad Donyamali dalam wawancara dengan kantor berita Jerman DPA serta Televisi Nasional Iran (11/03/2026) .
Donyamali menegaskan bahwa situasi politik dan konflik dengan Amerika Serikat membuat Iran tidak mungkin mengirim tim nasionalnya ke turnamen sepak bola terbesar dunia tersebut. “Mengingat pemerintah korup ini telah membunuh pemimpin kami, maka tidak ada kondisi yang memungkinkan kami untuk berpartisipasi dalam Piala Dunia,” tegas Donyamali. Menurut Donyamali, konflik yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir telah menelan banyak korban jiwa di Iran sehingga keikutsertaan dalam turnamen olahraga internasional dianggap tidak pantas. “Dua perang telah dipaksakan kepada kami dalam delapan atau sembilan bulan terakhir dan ribuan warga kami terbunuh. Oleh karena itu, tidak mungkin bagi kami untuk hadir dalam situasi seperti ini,” tambahnya lagi.
Keputusan ini muncul setelah meningkatnya konflik militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang menyebabkan tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Pemerintah Iran menuduh serangan udara yang melibatkan AS dan Israel sebagai penyebab kematian Khamenei telah meningkatkan ketegangan di Timur Tengah. Selain korban pemimpin negara, laporan media internasional juga menyebutkan konflik tersebut telah menewaskan lebih dari seribu warga sipil Iran sejak akhir Februari 2026.
Selain faktor konflik, Donyamali juga menyoroti posisi Amerika Serikat sebagai tuan rumah utama turnamen. Menurut Donyamali, jika negara lain melakukan tindakan serupa terhadap pemimpin suatu negara, komunitas internasional seharusnya sudah bereaksi keras. “Jika tuan rumahnya negara lain, komunitas internasional pasti sudah bereaksi dan mencabut haknya sebagai penyelenggara,” ujar Donyamali. Turnamen FIFA World Cup 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 di tiga negara yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sebelumnya Iran sudah memastikan tiket ke putaran final dan tergabung dalam Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru dengan seluruh pertandingan grup dijadwalkan berlangsung di kota-kota Amerika Serikat seperti Los Angeles dan Seattle.
Keputusan Iran memicu perhatian dari komunitas sepak bola internasional. Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya berharap turnamen tersebut dapat menjadi simbol persatuan global. Gianni bahkan menyatakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menjamin bahwa Iran akan tetap diterima untuk bermain di turnamen tersebut. Namun pemerintah Iran menolak jaminan tersebut. Di sisi lain, Trump disebutkan tidak terlalu mempersoalkan keputusan Iran. Dalam komentarnya kepada media, Trump mengatakan tidak terlalu peduli jika Iran memilih tidak ikut. “Saya benar-benar tidak peduli apakah Iran bermain atau tidak,” kata Trump menanggapi ancaman boikot tersebut.
Keputusan Iran juga dapat memicu konsekuensi serius dari FIFA. Regulasi organisasi sepak bola dunia tersebut menyebutkan negara yang mundur dari turnamen setelah lolos kualifikasi dapat dikenai denda besar bahkan larangan mengikuti kompetisi internasional di masa depan. Jika Iran benar-benar menarik diri, FIFA kemungkinan akan menunjuk negara pengganti, dari Asia, Irak atau Uni Emirat Arab yang disebut sebagai kandidat yang mungkin menggantikan posisi Iran di turnamen tersebut.
Penarikan diri Iran menegaskan bahwa olahraga dalam kancah global kini semakin sulit dipisahkan dari konflik geo-politik. Keputusan ini juga menjadi salah satu kasus langka dalam sejarah Piala Dunia, di mana negara yang sudah lolos kualifikasi memilih mundur karena konflik politik dan keamanan. Bagi Iran, keputusan tersebut sebagai protes terhadap situasi internasional yang mereka anggap tidak adil. Sementara bagi dunia sepak bola, absennya Iran berpotensi menjadi pukulan besar bagi turnamen yang selama ini digambarkan sebagai panggung persatuan internasional. (DEWI SUSPA)