Kisah Pertemuan Dua Budaya Dalam Keberanian dan Cinta

KEBUMEN, 19 February 2026 – Sejarah kerap meninggalkan jejaknya bukan pada prasasti besar, melainkan pada cerita yang diturunkan secara getok tular, yang bertahan dari mulut ke mulut. Di Kebumen, salah satu kisah sejarah legendaris adalah tentang Tan Piek Nio, seorang perempuan Tionghoa dengan kekasihnya R.M. Soelaiman Kertowongso, bangsawan Jawa yang namanya masih bergema dalam ingatan masyarakat Kebumen.

Tan Piek Nio hidup pada masa ketika dunia tidak ramah bagi perempuan, terlebih bagi mereka yang berasal dari komunitas perantau dari Tiongkok, adalah kisah nyata yang nyaris hilang dari data sejarah. Tan Piek Nio, hadir dalam ingatan kolektif sebagai sosok yang tidak memilih tunduk. Meski bertubuh kecil, tetapi tekadnya keras seperti batu sungai yang dilalui arus namun tidak pernah aus apalagi rapuh. Dalam kisah yang diwariskan turun-temurun, Tan Piek Nio bukan sekedar perempuan biasa, melainkan keberanian yang menjelma rupa, sebagai seorang pejuang kaumnya.

Tan Piek Nio terlahir dari keluarga Tionghoa yang menetap di ranah Kebumen, pada masa ketika ketegangan etnis dan tekanan kolonial Belanda membayangi kehidupan masyarakat sehari-hari. Di tengah situasi itu, Tan Piek Nio belajar bertahan dengan kecerdikan, keteguhan hati, dan keberanian yang jarang dimiliki perempuan sebayanya. Tan Piek Nio justru sangat memahami bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga wajib menjaga martabat dan harga diri.

Di sisi lain, R.M. Soelaiman Kertowongso terlahir sebagai anak zaman dari darah bangsawan Jawa Kerajaan Kedu. Pangeran dari Trah bangsawan Kebumen, Kolopaking ke-3 ini mewarisi tata krama, kekuasaan, dan tanggung jawab sosial. Pandangan moderatnya melampaui sekat-sekat adat. Dalam diri Soelaiman, kekuasaan tidak semata dimaknai sebagai kuasa, melainkan sebagai kewajiban untuk melindungi dan menimbang keadilan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen, Frans Haidar mengatakan kisah pertemuan Tan Piek Nio dan R.M. Soelaiman Kertowongso bukan sekadar pertemuan dua insan, melainkan persinggungan dua dunia yang lama terpisahkan oleh garis tak kasatmata, yatu Tionghoa dan Pribumi Jawa. Menurut Frans, ”Dalam kisah rakyat, hubungan mereka sering digambarkan tidak selalu mudah, penuh bisik dan intrik, penuh risiko, dan sarat konsekuensi sosial, seperti yang banyak terjadi dalam kehidupan istana priyayi Jawa. Namun justru di situlah maknanya lahir menjadi pasangan yang membutuhkan dan menguatkan”. Itulah bukti asimilasi yang akhirnya bisa diterima pada zamannya dimana persinggungan kultur saat itu masih saling dominan dan tarik menarik.

Masyarakat tua Kebumen kerap mengatakan bahwa Tan Piek Nio bukan perempuan yang menunggu diselamatkan. Tan Piek Nio selalu tampil dan berdiri sejajar. Jika R.M. Soelaiman adalah pelindung, maka Tan Piek Nio adalah api yang menjaga nyala keberanian. Keduanya berjalan bersama, bukan dalam bayang-bayang satu sama lain, melainkan dalam kesadaran bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh.

Pengamat Sejarah Kota Kebumen, Teguh Hindarto mengatakan Tan Piek Nio dikenal sebagai perempuan luar biasa yang memiliki kemampuan bela diri, sebuah simbol bahwa perempuan-pun berhak atas ruang aman dan memiliki kehormatan. Sementara R.M. Soelaiman Kertowongso digambarkan sebagai figur penyeimbang dengan pembawaan yang tenang, tegas, dan berpijak pada kebijaksanaan kultur Jawa. Dua karakter yang berbeda, namun saling melengkapi, seperti siang dan malam yang berbagi langit yang sama. ”Kisah mereka, tidak pernah benar-benar dibekukan dalam arsip kolonial. Kisah mereka hidup dalam cerita rakyat, dalam bisikan para sesepuh, dalam jejak komunitas Tionghoa yang masih tersisa di Kebumen”, tambah Teguh Hindarto.

Sejarah pecinan tua, bongpay sunyi, dan nama-nama yang perlahan pudar. Namun justru karena itu, kisah Tan Piek Nio dan RM Soelaiman Kertowongso terasa lebih manusiawi dengan kondisi rapuh, berani, tapi nyata. Kisah ini menjadi landasan emansipasi bagi perempuan Kebumen dan juga kesama-rataan antara bangsawan dengan rakyatnya. Kisah ini membuktikan bahwa perempuan Kebumen juga sudah maju dalam pemikiran dan harga diri meski dalam kungkungan penjajahan Belanda. Menjadi pahlawan rakyat kota walet seribu pesona meski belum menyandang gelar pahlawan nasional.

Kini, ketika cerita mereka dibaca bukan semata sebagai legenda, tetapi sebagai cermin sejarah Kebumen yang bermasyarakat plural. Bahwa kota ini menjadi ruang perjumpaan. Bahwa keberanian bisa lahir dari siapa saja. Dan bahwa cinta dalam arti paling luas, mampu menembus batas etnis, adat, kultur dan zaman. Di antara kabut waktu, nama Tan Piek Nio dan R.M. Soelaiman Kertowongso tetap menyala dihati masyarakat Kebumen. Tidak sebagai monumen batu, tetapi sebagai ingatan hidup tentang bagaimana manusia memilih berdiri, mencinta, dan bertahan di tengah sejarah yang tak selalu berpihak. (DEWI SUSPA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tentang Aku


This will close in 20 seconds